VOLUME 6, 2026
VOLUME 6, 2026
Lingkungan bukan sekadar ruang tempat kita hidup, tetapi juga penyangga keberlangsungan kehidupan itu sendiri. Hutan yang lestari, sungai yang bersih, udara yang sehat, dan keanekaragaman hayati yang terjaga merupakan warisan berharga yang menentukan kualitas hidup generasi hari ini maupun masa depan. Menjaga lingkungan pada hakikatnya adalah menjaga kehidupan.
Bulan Mei selalu menghadirkan semangat tentang kerja, perjuangan, dan martabat manusia. Di balik denyut pembangunan, ada tangan-tangan buruh yang bekerja tanpa lelah mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, edisi kali ini mengangkat tema “Buruh” untuk mengajak pembaca melihat kembali sejarah, dinamika, dan wajah kemanusiaan para pekerja dari berbagai sudut pandang.
Puisi menjadi sarana bagi insan untuk menyuarakan rasa, gagasan, dan pengalaman hidup. Dari lembaran kertas hingga layar gawai, dari tradisi lisan hingga platform digital, puisi terus hidup dan menemukan pembacanya. Melalui Buletin Lembaran edisi April 2026, kami mengajak pembaca menyusuri perjalanan puisi dari berbagai sudut pandang. Pembahasan dimulai dari Puisi Dalam Surat Kabar yang merekam peran puisi dalam media massa, hingga Pantun dan Gurindam dalam Koleksi Mikrofis yang menghadirkan kembali khazanah klasik sebagai bagian dari ingatan kolektif bangsa.
Bulan Ramadan adalah waktu yang sarat makna. Ia hadir membawa kesempatan untuk memperlambat langkah sejenak, menata kembali niat, sekaligus memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman batin. Dalam suasana yang penuh keberkahan ini, Buletin Lembaran edisi Februari 2026 mengajak pembaca menyusuri Ramadan dari berbagai sudut pandang—tradisi, sejarah, literasi, hingga refleksi kehidupan.
Bulan Ramadan adalah waktu yang sarat makna. Ia hadir membawa kesempatan untuk memperlambat langkah sejenak, menata kembali niat, sekaligus memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman batin. Dalam suasana yang penuh keberkahan ini, Buletin Lembaran edisi Februari 2026 mengajak pembaca menyusuri Ramadan dari berbagai sudut pandang—tradisi, sejarah, literasi, hingga refleksi kehidupan.
Awal tahun kerap kita sambut dengan harapan: resolusi baru, langkah baru, dan semangat bahwa hari esok bisa lebih baik. Namun, Januari juga mengingatkan kita pada kenyataan yang tak jarang hadir tanpa aba-aba—alam yang bergolak, tanah yang bergeser, air yang meluap, dan langit yang runtuh dalam ingatan kolektif manusia. Bencana alam, dalam sejarah maupun masa kini, selalu meninggalkan jejak yang tak sekadar tercatat sebagai peristiwa, melainkan sebagai pengalaman kemanusiaan.